Jenis Ibadah Haji

Setiap jamaah bebas untuk pilih style ibadah haji yang mendambakan dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam perihal itu, sebagaimana muncul dalam hadis berikut.

Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah dengan Rasulullah SAW dalam th. hajjatul wada. Di pada kami tersedia yang berihram, untuk haji dan umrah dan tersedia pula yang berihram untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul disaat sudah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji kalau ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak lakukan tahallul sampai dengan selesai berasal dari nahar.

Berikut adalah style dan pengertian haji yang dimaksud.

Haji ifrad, berarti menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad apabila sesorang berniat menyendirikan, baik menyendirikan haji maupun menyendirikan umrah. Dalam perihal ini, yang didahulukan adalah ibadah haji. Artinya, disaat mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, orang selanjutnya berniat lakukan ibadah haji dahulu. Apabila ibadah haji sudah selesai, maka orang selanjutnya mengenakan ihram ulang untuk lakukan umrah.
Haji tamattu’, membawa makna bersenang-senang atau bersantai-santai dengan lakukan umrah lebih-lebih dahulu di bulan-bulah haji, lain bertahallul. Kemudian mengenakan pakaian ihram ulang untuk lakukan ibadah haji, ditahun yang sama. Tamattu’ mampu termasuk berarti lakukan ibadah di dalam bulan-bulan dan juga di dalam th. yang sama, tanpa lebih-lebih dahulu pulang ke negeri asal.
Haji qiran, mengandung makna menggabungkan, mengumpulkan atau menyekaliguskan. Yang dimaksud di sini adalah mengumpulkan atau menyekaliguskan berihram untuk lakukan ibadah haji dan umrah. Haji qiran dilaksanakan dengan tetap mengenakan pakaian ihram sejak miqat makani dan lakukan semua rukun dan kudu haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan selagi lama. Menurut Abu Hanifah, lakukan haji qiran, berarti lakukan dua thawaf dan dua sa’i.

D. Syarat Wajib Haji

Syarat hai adalah ketetapan yang kudu dipenuhi oleh seseorang yang akan lakukan ibadah haji. Syarat selanjutnya sebagai berikut.

1) Beragama Islam 2) Telah dewasa (baligh) 3) Berakal sehat 4) Merdeka (bukan budak atau hamba) 5) Mampu (istita’ah).

Catatan :

Anak yang belum dewasa apabila menunaikan ibadah haji maka hukumnya sunnah agar ia kudu mengulangi menunaikan ibadah haji sebab hukumnya tetap kudu baginya apabila sudah dewasa.
E. Syarat Sah Haji

1) Islam 2)Berakal 3) Miqot zamani, berarti haji dilaksanakan di selagi tertentu (pada bulan-bulan haji), tidak di selagi lainnya. ‘Abullah bin ‘Umar, mayoritas kawan akrab dan ulama sesudahnya bicara bahwa selagi selanjutnya adalah bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan sepuluh hari (pertama) berasal dari bulan Dzulhijja 4) Miqot makani, berarti haji (penunaian rukun dan kudu haji) dilaksanakan di daerah tertentu yang sudah ditetapkan, tidak sah dilaksanakan daerah lainnya. Wukuf dilaksanakan di daerah Arofah. Thowaf dilaksanakan di sekeliling Ka’bah. Sa’i dilaksanakan di jalan pada Shofa dan Marwah. Dan seterusnya.

Rukun Haji

Rukun haji adalah rangjaian amalan haji yang kudu dikerjakan. Apabila amalan selanjutnya tidak dikerjakan. Apabila amalan selanjutnya tidak dilaksanakan maka ibadah hajinya tidak sah atau batal dan tidak boleh diganti dengan dam atau denda. Akan tetapi, kudu mengulangi hajinya pada selagi yang lain.

Adapun yang termasuk rukun haji adalah sebagai berikut.

Ihram
Wukuf di Arafah
Thowaf ifadhoh
Sa’i
Tahalul (bercukur)
Tertib dan berurutan.

Jika tidak benar satu berasal dari rukun ini tidak ada, maka haji yang dilaksanakan tidak sah.
Rukun pertama: Ihram

Yang dimaksud dengan ihram adalah niatan untuk masuk dalam manasik haji. Siapa yang meninggalkan niat ini, hajinya tidak sah. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya tiap tiap amalan tergantung pada niat dan tiap tiap orang akan meraih apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Wajib ihram mencakup:

Ihram berasal dari miqot.
Tidak Mengenakan pakaian berjahit (yang menyatakan lekuk badan atau anggota tubuh). lelaki tidak diperkenankan Mengenakan baju, jubah, mantel, imamah, penutup kepala, khuf atau sepatu (kecuali kalau tidak mendapati khuf). Wanita tidak diperkenankan Mengenakan niqob (penutup wajah) dan sarung tangan.
Bertalbiyah.

Mengucapkan niat haji atau umroh atau kedua-duanya, sebaiknya dilaksanakan setelah shalat, setelah berniat untuk manasik. Namun kalau berniat disaat sudah naik kendaraan, maka itu termasuk boleh sebelum sampai di miqot. Jika sudah sampai miqot namun belum berniat, berarti dianggap sudah melalui miqot tanpa berihram.
Lafazh talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Ketika bertalbiyah, laki-laki disunnahkan mengeraskan suara.
Rukun kedua: Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling penting. Siapa yang luput berasal dari wukuf di Arafah, hajinya tidak sah. Ibnu Rusyd berkata, “Para ulama sepakat bahwa wukuf di Arafah adalah anggota berasal dari rukun haji dan siapa yang luput, maka kudu tersedia haji pengganti (di th. yang lain).” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Yang dimaksud wukuf adalah datang dan berada di daerah mana saja di Arafah, meskipun dalam situasi tidur, sadar, berkendaraan, duduk, berbaring atau berjalan, baik pula dalam situasi suci atau tidak suci (seperti haidh, nifas atau junub) (Fiqih Sunnah, 1: 494). Waktu dikatakan wukuf di Arafah adalah selagi terasa berasal dari matahari tergelincir (waktu zawal) pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai selagi terbit fajar Shubuh (masuk selagi Shubuh) pada hari nahr (10 Dzulhijjah). Jika seseorang wukuf di Arafah selain selagi tersebut, wukufnya tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 17: 49-50).

Jika seseorang wukuf di selagi mana saja berasal dari selagi tadi, baik di {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} siang atau malam, maka itu sudah cukup. Namun kalau ia wukuf di siang hari, maka ia kudu wukuf sampai matahari sudah tenggelam. Jika ia wukuf di malam hari, ia tidak miliki keharusan apa-apa. Madzab Imam Syafi’i berpendapat bahwa wukuf di Arafah sampai malam adalah sunnah (Fiqih Sunnah, 1: 494).

Sayid Sabiq mengatakan, “Naik ke Jabal Rahmah dan yakin wukuf di situ afdhol (lebih utama), itu keliru, itu bukan termasuk ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Fiqih Sunnah, 1: 495)
Rukun ketiga: Thowaf Ifadhoh (Thowaf Ziyaroh)

Thowaf adalah melingkari Ka’bah sebanyak tujuh kali. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka lakukan lakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)
Syarat-syarat thowaf:

Berniat disaat lakukan thowaf.
Suci berasal dari hadats (menurut pendapat mayoritas ulama).
Menutup aurat sebab thowaf itu seperti shalat.
Thowaf dilaksanakan di dalam masjid meskipun jauh berasal dari Ka’bah.
Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang berthowaf.
Thowaf dilaksanakan sebanyak tujuh kali putaran.
Thowaf dilaksanakan berturut-turut tanpa tersedia selang kalau tidak tersedia hajat.
Memulai thowaf berasal dari Hajar Aswad.

Catatan:

Ulama Syafi’iyah berkata, “Jika idh-tibaa’ dan roml dilaksanakan selagi thowaf qudum sesudah itu lakukan sa’i setelah itu, maka idh-tibaa’ dan roml tidak kudu diulangi ulang dalam thowaf ifadhoh. Namun kalau sa’i (haji) diakhirkan sampai thowaf ifadhoh, maka disunnahkan lakukan idh-tibaa’ dan roml disaat itu (Fiqih Sunnah, 1: 480).
Tidak tersedia bacaan dzikir atau do’a tertentu untuk tiap tiap putaran selagi thowaf. Sebagian jama’ah merekomendasikan demikian, namun tidak tersedia dalil pendukung dalam perihal ini, bahkan kerap memberatkan.

Rukun keempat: Sa’i

Sa’i adalah berjalan pada Shofa dan Marwah dalam rangka ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

“Lakukanlah sa’i sebab Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits selanjutnya hasan).
Syarat sa’i:

Niat.
Berurutan pada thowaf, lalu sa’i.
Dilakukan berturut-turut pada tiap tiap putaran. Namun kalau tersedia sela selagi sebentar pada putaran, maka tidak mengapa, bahkan kalau terlalu butuh.
Menyempurnakan sampai tujuh kali putaran.
Dilakukan setelah lakukan thowaf yang shahih.

Rukun kelima : Tahallul

Tahalul (bercukur), yakni menggunting rambut sebagai sinyal mengakhiri alur ibadah haji / umrah dengan takaran sedikitnya 3 helai rambut. Tahalul termasuk tidak benar satu rukun haji sebagai penghalal pada {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} perihal yang diharamkan dalam haji

Rukun keenam : Tertib dan berurutan

Yaitu lakukan semua amalan haji yang termasuk rukun Islam secara berurutan berasal dari awal sampai akhir.

Artikel Terkait
Badal Haji & Travel Haji Umrah

About The Author

Add Comment