Tata Cara Melaksanakan Ibadah Haji

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ibadah Haji merupakan bagian berasal dari syariat bagi umat-umat dahulu sejak Nabi Ibrahim AS. Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk membangun Baitul Haram di Mekkah, supaya orang-orang tawaf di sekelilingnya dan menyebut nama Allah ketika lakukan tawaf itu. Ibadah Haji merupakan tidak benar satu rukun islam yang kelima, yang diwajibkan oleh Allah bagi tiap tiap muslim yang dapat mengerjakannya sekali didalam seumur hidupnya, dan tidak tersedia larangan untuk mengerjakannya lebih berasal dari satu kali. badal haji
Disyariatkan untuk lakukan Ibadah Haji bagi orang-orang yang telah memenuhi segala persyaratannya. Hal ini untuk menghalau rintangan-rintangan yang menghambat ibadah tersebut (Slamet Abidin,1998:263).
Kewajiban Ibadah Haji menurut jumhur ulama pada mulanya disyariatkan pada th. keenam hijriyah dan kembali menyatakan th. kesembilan hijriyah. Sedangkan para fuqaha telah setuju bahwa orang yang perlu haji diantaranya yakni : Islam, baligh, berakal sehat, merdeka, dan mampu. Dan orang-orang yang meninggal dunia sebelum menunaikan ibadah haji, padahal ketika hidupnya telah memadai persyaratannya untuk naik haji, maka keluarganya dapat menukar mengerjakannya ibadah haji untuknya. Begitu pula orang-orang yang lemah karena telah tua misalnya, ibadah haji baginya dapat ditunaikan oleh keluarganya (Slamet Abidin,1998:267). Sedangkan ibadah Umrah hampir sama bersama dengan ibadah haji didalam tata langkah pelaksanaannya travel haji umrah .

B. Rumusan Masalah
Untuk membatasi pembahasan dan mempermudah didalam penyajian makalah ini, penulis menyusun rumusan persoalan sebagai tersebut :
1. Apa itu Ibadah Haji dan Umrah ?
2. Kapan kala pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah ?
3. Apa saja syarat, rukun, serta perlu Haji dan Umrah ?
4. Bagaimana kronologis tata langkah pelaksanaan didalam Ibadah Haji dan Umrah ?
5. Hal apa saja yang diharamkan didalam Ibadah Haji dan Umrah dan macam-macam dam (denda)?
6. Hikmah apa yang dapat disita berasal dari Ibadah Haji dan Umrah ?

C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini memiliki tujuan untuk :
1. Mengetahui makna Ibadah Haji dan Umrah
2. Mengetahui kapan kala pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah
3. Mengetahui apa saja syarat, rukun, serta perlu Haji dan Umrah
4. Mengetahui bagaimana tata langkah kronologis pelaksanaan didalam Ibadah Haji dan Umrah
5. Mengetahui hal apa saja yang diharamkan didalam ibadah Haji dan Umrahdan macam-macam dam (denda)
6. Mengetahui hikmah apa yang dapat disita berasal dari Ibadah Haji dan Umrah

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Haji dan Umrah
Kata hajj ditinjau berasal dari makna aslinya adalah datang ke Baitullah untuk menggerakkan ibadah. Haji menurut bhs ialah menyengaja. Sedangkan menurut makna ialah sengaja datang ke Mekkah atau Ka’bah untuk mengerjkan ibadah yang terdiri berasal dari tawaf, sa’i, wukuf, dan ibadah-ibadah lain, manfaat memenuhi perintah Allah dan berharap keridhaan-Nya.
Adapun umrah menurut bhs bermakna ziarah. Sedangkan menurut syara’ umrah ialah menziarahi ka’bah, lakukan tawaf di sekelilingnya, bersa’i pada Shafa dan Marwah dan mencukur atau menggunting rambut bersama dengan langkah spesifik dan dapat ditunaikan tiap tiap waktu. Umrah adalah sama bersama dengan ibadah haji cuma bersama dengan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} perbedaan spesifik (Slamet Abidin,1998:272).
Mengerjakan Haji ialah meng-kasad-kan Baitullah yang telah dijadikan Tuhan Ka’bah bagi segala orang islam, untuk menthawafinya dan untuk lakukan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} amalan dan ibadat yang telah ditetapkan syara’diwaktu yang telah ditentukan yakni : berasal dari 1 syawal hingga hari yang kesepuluh berasal dari bulan dzulhijjah.
Dan mengerjakan Umrah sendiri ialah menziarahi baitullah bersama dengan mengerjakan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} ibadat diwaktu mana saja kita kehendaki (T.M. Hasbi Ash Shiddieqy,1977:167).

B. Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh
1. Waktu Ibadah Haji
Salah satu berasal dari sahnya haji adalah waktunya, yakni berasal dari awal bulan Syawal hingga terbit fajar hari raya haji (tanggal 10 bulan haji). Jadi, ihram haji perlu ditunaikan didalam masa tersebut ( dua bulan sembilan hari 1/2 ).
Firman Allah SWT :
الْحَجُّ أَشْهُرُ مَّعْلُومَاتُ…
Artinya: “Haji itu pada bulan-bulan yang telah ditentukan” (Q.S Al-Baqarah: 197)
Ayat ini dijelaskan oleh Asar Ibnu Umar :
Artinya : “ Dari Ibnu Umar berkata, “ Bulan haji itu ialah bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari haji.” ( HR. Bukhari)
Hadis tersebut tunjukkan penetapan bulan haji yang pelaksanaannya adalah 9,10,11,12, dan 13 bulan haji. Apabila ditunaikan di luar bulan haji, maka ibadah hajinya beralih menjadi ibadah umrah.

2. Waktu Ibadah Umrah
Menurut para ulama kala mengerjakan ibadah umrah adalah tidak terikat pada kala tertentu, dapat ditunaikan tiap tiap kala sesuai bersama dengan peluang dan kesanggupan orang yang hendak melaksanakannya, jikalau pada hari-hari tertentu, yakni hari Arafah,hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq.
Rasulullah SAW bersabda :
عمرة في رمضا ن تعدل حجة (رواه احمد و ابن ماجه)
Artinya :
“Ibadah umrah di didalam bulan Ramadhan seimbang bersama dengan ibadah haji.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majjah)

C. Syarat, Rukun, serta Wajib Haji dan Umrah
1. Syarat Haji dan Umrah
Beberapa syarat haji dan menjadi syarat umrah adalah sebagai tersebut (Slamet Abidin,1998:271) :
a. Beragama Islam.
b. Baligh.
c. Berakal sehat.
d. Merdeka.
e. Mampu yakni didalam hal kendaraan, bekal, pengongkosan, dan keamanan di didalam perjalanan.
Pengertian dapat itu tersedia 2 macam :
1) Mampu mengerjakan haji bersama dengan sendirinya, bersama dengan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} syarat sebagai tersebut :
a) Mempunyai bekal yang memadai untuk pergi ke mekah dan kembalinya.
b) Ada kendaraan yang pantas bersama dengan keadaannya, baik kepunyaan sendiri ataupun bersama dengan jalan menyewa.
c) Aman perjalanannya. Artinya dimasa itu biasanya orang-orang yang lewat jalan itu selamat sentosa.
d) Syarat perlu haji bagi perempuan, hendaklah ia terjadi bersama bersama dengan mahramnya, bersama bersama dengan suaminya, atau bersama bersama dengan perempuan yang dipercayai. (Fiqih Islam. 1986: 249).
2) Kuasa mengerjakan haji yang bukan ditunaikan oleh orang bersangkutan, tapi bersama dengan jalan menggantinya bersama dengan orang lain. Contohnya haji orang yang telah meninggal dunia.
Bagi yang tidak memenuhi beberapa syarat tersebut, baginya tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji.

2. Rukun Haji
a. Ihram, tekad mengerjakan haji / umrah.
Ihram yakni suasana bersuci diri bersama dengan mengenakan baju dua helai kain putih tidak berjahit sesudah itu mengucapkan tekad haji/umrah.
b. Wukuf di Arafah
c. Tawaf. Tawaf yang perlu adalah tawaf ifadah
d. Sa’i.
e. Tahalul, mencukur atau menggunting rambut sekurang-kurangnya menghilangkannya tiga helai rambut.
f. Tertib, yakni mendahulukan yang pertama dan secara berturut-turut hingga pada yang terakhir.
Rukun haji perlu dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan. Apabila tidak dipenuhi, maka ibadah haji tidak sah.

3. Rukun Umrah
a. Berihram
b. Tawaf, yakni memutari ka’bah tujuh kali bersama dengan cara-cara dan doa-doa tertentu.
c. Sa’i,
d. Tahalul, mencukur atau menggunting rambut sekurang-kurangnya menghilangkannya tiga helai rambut.
e. Tertib, yakni mendahulukan yang pertama dan secara berturut-turut smpai pada yang terakhir.
Pada dasarnya rukun-rukun umrah dan rukun-rukun haji itu sama, cuma saja rukun untuk wuquf di Arafah tidak dimasukkan didalam rukun umrah.

4. Wajib Haji adalah:
a. Niat ihram berasal dari miqad
b. Mabit (bermalam) di Muzdalifah
c. Mabit (bermalam) di Mina
d. Melontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah
e. Tidak lakukan tingkah laku yang dilarang pada kala lakukan ibadah haji
f. Tawaf Wada’ (Nuruddin Shiddiq, 1993: 3)
Wajib haji ini adalah ketentuan yang misalnya dilanggar maka ibadah haji selalu sah, tapi perlu membayar dam (denda).

5. Wajib Umrah adalah:
a. Ihram berasal dari area yang telah ditentukan (miqat makani). Sedang miqat zamaninya tidak ditentukan karena ibadah umrah dapat ditunaikan sepanjang tahun.
b. umrah atau haji.

D. Tata Cara Pelaksanaan didalam Ibadah Haji dan Umrah
Terdapat tiga langkah didalam pelaksanaan haji dan umrah, yaitu:
1. Ifrad, adalah ihram untuk haji saja lebih dahulu berasal dari miqatnya, sesudah itu merampungkan pekerjaan haji. Setelah itu ihram untuk umrah sesudah itu mengerjakan umrah. Ini bermakna lakukan satu per satu dan mendahulukan haji. Cara ini adalah langkah yang lebih baik berasal dari dua langkah yang lain.
2. Tamattu’, adalah mendahulukan umrah berasal dari haji bersama dengan langkah pada mulanya ihram untuk umrahdari miqat negerinya sesudah itu merampungkan semua urusan umrah, lalu ihram kembali untuk haji.
3. Qiran, adalah mengerjakan haji dan umrah secara bersama-sama, bersama dengan langkah lakukan ihram untuk keduanya pada kala ihram haji dan mengerjakan semua urusan haji dan umrah, Dengan demikian, termasuk didalam pekerjaan ibadah haji. (Slamet Abidin, 1998: 280-281)

1. Cara Melaksanakan Haji
Ibadah haji adalah tidak benar satu rukun Islam yang lima, yang diwajibkan oleh Allah atas muslim yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Diwajibkan sekali seumur hidup, yang kedua kali dan seterusnya hukumnya adalah sunnat.
Firman Allah SWT:
…وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: ”… dan menjadi kewajiban bagi manusia pada Allah berhaji ke ka’bah itu, yakni (bagi) orang yang dapat datang ke di pada mereka.” (Q.S Al-Imran: 97)
Adapun tata langkah pelaksanaan ibadah haji yaitu:
a. Ihram
Yaitu berniat ihram untuk lakukan ibadah haji bersama dengan pakai baju ihram, yakni rida’ ( selendang ) yang menutup badan bagian bawah. Pakaian ihram warnanya putih, bersih, dan tidak berjahit. Berihram diawali berasal dari miqat (batas yang ditentukan), yakni miqat zamani (waktu) dan miqat makani (tempat)
Hal-hal tersebut merupakan adab-adab ihram:
1) Kebersihan: wudhu atau mandi, memotong kuku, menggunting kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, merapikan jenggot dan rambut.
2) Memakai baju ihram tanpa penutup kepala
3) Memakai minyak wangi
4) Shalat dua rakaat bersama dengan tekad sunah ihram. Pada rakaat pertama sesudah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun, dan rakaat kedua surat Al-Ikhlas.
5) Mengucapkan talbiyah (Sayyid Sabiq, 1978:85).
Bacaan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
Artinya: Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, saya menjawab panggilan-Mu, saya menjawab panggilan-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu, saya menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan cuma milik-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu.

b. Tawaf
Yaitu memutari Ka’bah., yakni memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali.Ka’bah berada di sebelah kiri kita atau berkeliling berlawanan bersama dengan arah jarum jam sambil berdoa.
Macam-macam tawaf:
1) Tawaf qudum: ditunaikan pada kala baru mampir di Masjidil haram (Makkah), disebut bersama dengan Tawaf tahiyat (penghormatan).
2) Tawaf ifadah: ditunaikan sesudah bertolak berasal dari Padang Arafah
3) Tawaf wada’: ditunaikan ketika dapat meninggalkan Masjidil Haram
4) Tawaf sunah (tawaf tawattu’), ini dapat ditunaikan tiap tiap tersedia kesempatan, tanpa tersedia lari-lari kecil di dalamnya.
Syarat-syarat tawaf adalah suci berasal dari hadas besar dan hadas kecil, suci berasal dari najis, menutup aurat, tersedia tujuh kali putaran yang sempurna, tawaf diawali berasal dari Hajar Aswad dan diakhiri pula di Hajar Aswad, Baitullah selalu di sebelah kiri, bertawaf di luar baitullah dan di luar Hijir Ismail.
Mengenai langkah pelaksanaanya adalah sebagai tersebut :
1) Memulai berasal dari Hajar Aswad bersama dengan menciumnya atau menyentuhnya bersama dengan tangan. Ketika lakukan tawaf, Ka’bah selalu di sebelah kiri.
2) Pada tiap putaran pertama disunahkan berlari-lari kecil bersama dengan langkah-langkah yang pendek dan mendekati Ka’bah. Adapun kaum wanita tidak disunahkan lari-lari kecil di didalam tawaf. Pada empat putaran berikutnya, ditunaikan bersama dengan terjadi biasa saja.
3) Disunahkan memperbanyak dzikir dan doa didalam tawaf. Orang yang tawaf dapat berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya dan untuk saudara-saudaranya yang ia kehendaki tentang kebaikan dunia dan akhirat. Disunahkan pulamelakukan tawaf secara berurutan.
Setelah selesai tawaf, jikalau suasana sangat mungkin maka menuju ke Multazam (tempat pada Hajar Aswad dan pintu Ka’bah). Tempat ini adalah area yang mustajab untuk berdo’a. Kemudian pergi ke belakang makam Nabi Ibrahim lalu salat dua rakaat. Membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua. Setelah itu, salat sunah di Hijir Ismail, sesudah itu minum air zam-zam yang disediakan di lingkungan masjidil Haram atau di sumbernya. (Nuruddin Shiddiq, 1993: 25)
Dalam buku lain dijelaskan bahwa: Hal yang ditunaikan Rasulullah saw. ketika selesai tawaf adalah beliau pergi ke belakang makam Nabi Ibrahim lalu salat dua rakaat. Membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua (T.M Hasbi ash-Shiddiqie, 1976:213).

c. Sa’i
Yaitu berlari-lari kecil pada bukit Safa dan bukit Marwah.
Adapun beberapa syarat sa’i sebagai tersebut :
1) Dilakukan sesudah tawaf
2) Dimulai berasal dari Safa dan diakhiri di Marwah
3) Melakukan tujuh kali putaran
Dilakukan pada area sa’i, yakni jalan yang memanjang pada Safa dan Marwah, sesuai bersama dengan tingkah laku Rasulullah.

d. Wuquf di Arafah
Pada tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) semua jamaah haji berangkat ke Padang Arafah untuk wuquf. Hadir di Padang Arafah pada kala yang ditentukan, yakni merasa berasal dari tergelincirnya matahari (waktu Lohor) tanggal 9 bulan haji hingga terbit fajar tanggal 10 bulan haji. Artinya orang yang mengerjakan ibadah haji perlu berada di padang Arafah pada kala tersebut (Sulaiman Rasyid, 1986:253). Wuquf bermakna hadir di padang Arafah pada kala tersebut.
Wuquf adalah puncak rukun ibadah haji. Dan orang yang tidak wuquf di Arafah sebelum fajar menyingsing, maka gugurlah hajinya.

e. Bermalam di Muzdalifah
Muzdalifah beradal berasal dari kata zafartinya dekat. Tempat itu dinamakan Muzdalifah karena orang yang bermalam di sana dapat merasa dekat bersama dengan Allah. Di didalam Al-Qur’an dinamakan masy’aril haram (monumen suci), dan di area inilah yang diperintahkan supaya mengingat Allah.
Apabila jamaah haji telah tiba di Muzdalifah, mereka lakukan salat Maghrib tiga rakaat, salat Isya dua rakaat bersama dengan qasar dan jama’ takhir bersama dengan satu adzan dan dua iqamah, dan tidak salat sunah pada salat itu.
Di Muzdalifah khususnya di Masy’aril Haram, memperbanyak membaca zikir bersama dengan hati yang khusyu dan ikhlas, di sini termasuk melacak batu kecil untuk digunakan melontar jumrah di Mina.

f. Bermalam di Mina
Setelah salat Subuh, jamaah haji baru berangkat ke Mina. Setelah hingga di Mina, jamaah haji segera menuju ke area melontar jumrah aqabah bersama dengan posisi berdiri dan Kiblat berada di sebelah kiri, dan Mina di sebelah kanan, tidak jauh bersama dengan sasaran melempar jumrah supaya batu-batu yang dilontarkan tidak meleset. Pada kala melontar, jamaah haji pun berhenti dan mengucapkan talbiyah. Kemudian merasa melontarkan sebutir batu hingga tujuh kali lontaran dan tiap tiap lontaram disertai ucapan (Slamet Abidin, 1998:295) :
الله اكبر اللهم اجعله حجا مبرورا وذنبا مغفورا
Artinya: “Allah Maha Besar, ya Allah, jadikanlah ibadah hajiku ini haji yang mabrur dan dosaku dosa yang diampuni”.
Bermalam di Mina ditunaikan pada hari Tasyriq, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

g. Melontar Jumrah
Pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah terbit fajar, jamaah haji menuju ke area melontar Jumrah Aqabah. Kemudian merasa melintar Jumrah Aqabah bersama dengan 7 butir batu satu persatu diiringi bersama dengan takbir dan do’a. Setelah itu, lakukan tahallul pertama.

h. Tahallul
Yaitu penghalalan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} larangan didalam berikhram. Contohnya: Mengenakan baju biasa, bercukur, Mengenakan wewangian, dan yang lainnya, jikalau bersetubuh bersama dengan istri selalu dilarang (haram), hingga selesai lakukan tawaf ifadah, yakni yang dinamakan tahallul kedua, bermakna semua larangan yang berlaku kala tengah berihram telah dibolehkan kembali, termasuk mengadakan hubungan suami istri.

i. Kemudian kembali ke Mekkah lalu bertawaf ifadah.
Tawaf ini adalah rukun. Dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah malontar Jumrah Aqabah. Cara melakukannya seperti ketika tawaf qudum.
Setelah selesai Tawaf, sesudah itu salat sunah Tawaf dua rakaat dan berdoa sesuka hati. (Nuruddin Shiddiq, 1993: 48). Dengan ini bermakna sjamaah haji telah lakukan tahallul kedua.

j. Kembali ke Mina
Setelah salat maghrib jamaah haji kembali ke Mina untuk mabit di sana. Hal ini termasuk wajib. Pada tanggal 11 Dzulhijjah, kembali melontar tiga Jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) dilontar pada tanggal 11-12-13 Dzulhijjah. Tiap-tiap jumrah dilontar bersama dengan 7 batu kerikil. Waktu melontar ialah sesudah tergelincir matahari.
Syarat melontar:
1) Dengan tujuh batu, dilontarkan satu persatu
2) Menertibkan tiga jumrah, diawali berasal dari Jumrah yang pertama, kedua, sesudah itu yang terakhir.
3) Alat untuk melontar adalah batu, tidak sah melontar bersama dengan selain batu.

k. Tawaf Wada’
Apabila telah kembali ke Makkah dan rela kembali ke kempung atau tanah air, hendaklah mengerjakan Tawaf Wada’. Tawaf ini wajib. Orang yang tidak mengerjakannya diketika rela kembali itu, boleh balik kembali ke Makkah untuk bertawaf jikalau belum melampaui miqat. Kalau tidak kembali, hendaklah menyembelih seekor kambing. (T.M. Hasbi ash-Shiddiqie, 1977:190).

2. Cara Melaksanakan Umrah
Firman Allah SWT:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ…
Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah…” (QS. Al-Baqarah: 196)
Adapun tata langkah pelaksanaan umrah adalah sebagai berikut:
a. Niat memulai umrah serta ihram dan membaca talbiyah berasal dari miqat.
b. Menghentikan bacaan talbiyah sesudah hingga di Ka’bah (memasuki Masjidil haram), sesudah itu tawaf 7 keliling (tawaf umrah bagi yang lakukan haji Tamattu’ dan tawaf Qudum bagi yang melaksanakn haji Qiran dan Ifrad). Setiap putaran diawali berasal dari hajar Aswad dan diakhiri di sana pula.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kala tawaf adalah:
1) Mencium Hajar Aswad jikalau memungkinkan, tapi misalnya mendapat kesukaran boleh menjamah saja bersama dengan tangan dan misalnya menjamah pun sukar, maka memadai bersama dengan berikan tanda sambil bertakbir dan tidak boleh berdesak-desakan di Hajar Aswad supaya tidak menyakiti orang lain.
2) Tawaf itu berasal dari sebelah luar Hijir Ismail dan tidak boleh berasal dari sebelah dalamnya karena bagian itu termasuk Ka’bah.
3) Setelah selesai tawaf keemudian salat dua rakaat di belakang makam Ibrahim as., jikalau sangat mungkin tapi misalnya tidak sangat mungkin di area mana saja berasal dari Masjidil Haram.
c. Kemudian Sa’i pada Safa dan Marwah sebanyak 7 kali, yakni Sa’i umrah bagi yang lakukan haji Tamattu’ dan Sa’i haji bagi yang melaksanakn haji Qiran dan Ifrad. Disyaratkan untuk Sa’i: Niat, tertib, ditunaikan sesudah selesai tawaf, dan prima 7 kali.
d. Tahallul bersama dengan mencukur semua rambut atau memotong {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} bagi yang lakukan haji tamattu’ untuk menyempurnakan umrahnya. Setelah tahallul maka dihalalkan baginya apa-apa yang diharamkan ketika ia berihram. Adapun yang lakukan haji ifrad atau haji qiran, ia selalu mengenakan ihramnya, untuk menunaikan ibadah haji dan tidak boleh tahallul, jikalau pada hari qurban.

E. Hal-hal yang diharamkan didalam ibadah Haji dan Umrah dan Jenis-jenis Dam
1. Hal-hal yang diharamkan:
a. Memakai baju yang berjahit
b. Menutup kepala
c. Menutup wajah oleh kaum perempuan dan Mengenakan sarung tangan
d. Memakai bau-bauan oleh laki-laki dan perempuan
e. Meminyaki rambut dan jenggot
f. Menghilangkan bulu di badan bersama dengan mencukurinya atau mengguntinginya, memotong kuku sepanjang haji, jikalau sakit tapi perlu membayar dam (denda).
g. Mengerat kuku
h. Meng-aqadkan nikah dan menikah
i. Menyetubuhi isteri
j. Memburu dan burburu binatang liar yang halal dimakan
k. Memakai sepatu yang menutup mata kaki

2. Jenis-jenis Dam (denda) yakni :
a. Dam (denda) karena menentukan tamattu’ atau qiran. Dendanya ialah : menyembelih seekor kambing (qurban), dan misalnya tidak dapat menyembelih kurban, maka perlu puasa tiga hari pada masa haji dan tujuh hari sesudah pulang ke negerinya masing-masing.
b. Dam (denda) meninggalkan ihram berasal dari miqatnya, tidak melempar jumrah, tidak bermalam di muzdalifah dan mina, meninggalkan tawaf wada’, terlambat wukuf di arafah, dendanya ialah memotong seekor kambing kurban.
c. Dam (denda) karena bersetubuh sebelum tahallul pertama, yang membatalkan haji dan umrah. Dendanya menurut {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} ulama ialah menyembelih seekor unta, jikalau tidak dapat maka seekor sapi, jikalau tidak dapat juga, maka bersama dengan makanan seharga unta yang di sedekahkan kepada fakir miskin di tanah haram, atau puasa sehari untuk tiap-tiap seperempat gantang makanan berasal dari harga unta tersebut.
d. Dam (denda) karena mengerjakan hal-hal yang di larang kala ihram, yakni bercukur, memotong kuku, berminyak, berpakaian yang di jahit, bersetubuh sesudah tahallul pertama. Dendanya boleh menentukan di antara tiga, yakni menyembelih seekor kambing, kerbau, puasa tiga hari atau sedekah makanan untuk 6 orang miskin sebanyak 3 sha’ (kurang lenih 9,5 liter).
e. Orang yang membunuh binatang buruan perlu membayar denda bersama dengan ternak yang sama bersama dengan ternak yang ia bunuh.
f. Dam karena terlambat supaya tidak dapat meneruskan ibadah haji atau umrah, baik terkendala di tanah suci atau tanah halal, maka bayarlah dam (denda) menyembelih seekor kambing dan berniatlah tahallul (menghalalkan yang haram) dan bercukur di area terlambat itu. (Slamet Abidin, 1998 : 303)

F. Hikmah Ibadah Haji dan Umrah
1. Setiap tingkah laku didalam ibadah haji sesungguhnya mempunyai kandungan rahasia, misal seperti ihrom sebagai upacara pertama maksudnya adalah bahwa manusia perlu melepaskan diri berasal dari udara nafsu dan cuma mengahadap diri kepada Allah Yang Maha Agung.
2. Ibadah haji beri tambahan jiwa tauhid yang tinggi
3. Memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah haji maupun umrah merupakan ibadah yang berat perlu persiapan fisik yang kuat, biaya besar dan perlu kesabaran serta ketabahan didalam hadapi segala godaan dan rintangan.
4. Menumbuhkan motivasi berkorban, karena ibadah haji maupun umrah, banyak meminta pengorbanan baik harta, benda, jiwa besar dan pemurah, tenaga serta kala untuk melakukannya.
5. Dengan lakukan ibadah haji dapat dimanfaatkan untuk membina persatuan dan kesatuan umat Islam sedunia.
6. Meningkatkan disiplin. Melaksanakan ibadah haji dan ibadah umrah di mekkah dan madinah perlu jadi biasa untuk disiplin ketika lakukan ritual ibadah haji. Pola disiplin ini perlu dapat konsisten konsisten meski kala pelaksanaan ibadah telah selesai.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Haji menurut bhs ialah menyengaja. Sedangkan menurut makna ialah sengaja datang ke Mekkah atau Ka’bahuntuk mengerjkan ibadah yang terdiri berasal dari tawaf, sa’i, wukuf, dan ibadah-ibadah lain, manfaat memenuhi perintah Allah dan berharap keridhaan-Nya. Sedangkan Umrah adalah sama bersama dengan ibadah haji cuma bersama dengan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} perbedaan spesifik (Slamet Abidin,1998:272).
Dalam mengerjakan haji dan umrah tersedia Syarat dan Rukunnya, yakni ,Beragama Islam, Baligh, Berakal sehat, Merdeka, Mampu yakni didalam hal kendaraan, bekal, pengongkosan, dan keamanan di didalam perjalanan.
Dalam haji dan umroh tersedia tiga langkah didalam pelaksanaannya, yaitu: ifrad, tamattu, dan qiran.
Adapun tata langkah pelaksanaan ibadah haji yaitu: ihram, tawaf, sai, wuquf di arafah, bermalam di muzdhalifah, bermalam di mina, melontar jumrah, tahallul, sesudah itu kembali ke mekkah lalu berthawaf ifadah, kembali ke mina, dan tawaf wada’.
sedangkan tata langkah pelaksanaan umrah yakni :Niat, menghentikan bacaan talbiyah sesudah hingga di Ka’bah, tawaf, sa’i, dan tahallul.
Hikmah berasal dari lakukan Ibadah Haji dan Umrah yaitu, Setiap tingkah laku didalam ibadah haji sesungguhnya mempunyai kandungan rahasia, misal seperti ihrom sebagai upacara pertama maksudnya adalah bahwa manusia perlu melepaskan diri berasal dari udara nafsu dan cuma mengahadap diri kepada Allah Yang Maha Agung, ibadah haji beri tambahan jiwa tauhid yang tinggi, memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah haji maupun umrah merupakan ibadah yang berat perlu persiapan fisik yang kuat, serta perlu kesabaran dan ketabahan, serta menumbuhkan motivasi berkorban karena meminta banyak pengorbanan baik harta benda, tenaga, jiwa besar yang pemurah serta kala untuk melaksanakannya.

About The Author

Add Comment